Friday, October 25, 2013

Film 'Dead Poet Society' : Jadi guru alay di sekolah [kenapa tidak]

seorang rekan mengajar komen sambil ndumel..
"ahh anak skarang susah diomongin..dilembuti melunjak..dikerasi kita makin makan hati.."

yang lain berkata, "anak skarang lebay, alay..susah diajak konsen belajar.."

temannya menimpali, "ho'oh..beda sangad ya waktu kita sekolah dulu..rajin datang sekolah..buku pelajaran lengkap..jarang sangad kita yang remid..eee anak skarang mah udahlah telat..bolos pula..remidial tiap saat.."

"anak skarang jago dandan..tapi klo belajar..mmm.." kata yg lain..

***


ehh..masa iya kita yg tua2 ini kalah sama anak kemarin sore..
masa iya g ada cara menengahi rentang masa antara kita..ohoho3

meniru gaya Robin Williams di film ini boleh juga keknya ni..


 

Film Dead Poets Society adalah film tahun 1989 yang bisa dikatakan sangat menginspirasi.

Film ini mengisahkan sekelompok siswa yang bersekolah di salah satu sekolah elite di Amerika yaitu Akademi Welton. Sekolah ini merupakan sekolahan yang terkenal dengan kedisiplinan yang tinggi dan menganut semboyan Tradisi, Kehormatan, Disiplin dan Pretasi. Kisah ini bermula dari kisah kehidupan sosial tujuh orang siswa yaitu : Neil, Todd, Knox, Charlie, Richard, Steven  dan Gerard yang merasakan ketidaknyamanan dengan peraturan di sekolahnya tersebut.
Pemikiran mereka tentang ilmu pengetahuan berubah setelah datang guru baru yang akan mengajarkan satra inggris kepada mereka. Guru tersebut adalah John Keating yang juga merupakan alumni akademi welton. Guru ini mengajar dengan teknik yang berbeda sehingga siswa yang diajarnya terinspirasi dengan apa yang ia ajarkan salah satunya adalah Neil yang memang sejak awal memiliki minat dalam bidang akting.
Hingga suatu saat Neil dan kawan-kawannya  menemukan catatan tua sekolah dimana ternyata guru sastra inggris mereka, John Keating, pernah mempunyai klub rahasia bernama Dead Poets Society. Klub yang anggotanya gemar membaca puisi dan selalu punya pemikiran berbeda dari yang lainnya menjadi inspirasi Neil dan kawan-kawan untuk membentuk sebuah klub yang sama.


Lambat laun pemikiran Neil dan teman-temannya terbuka lebar berkat pengajaran yang dilakukan oleh Keating, terlebih lagi mereka mendapatkan istilah baru yaitu Carpe Diem yang dalam bahasa inggris berarti Seize The Day yang berarti raihlah kesempatan menjadi motto baru dalam hidup mereka. Terutama Todd, remaja paling pemalu diantara teman-temannya yang lain yang lambat laun menjadi seorang yang berani mengutarakan isi hatinya berkat pola pikir Keating yang selalu menginspirasi dan mendukungnya.
  Film ini mengandung pesan moral sekaligus menyindir pemikiran-pemikiran orthodox atau pemikiran kaum kolot pada masanya. Freethinkers adalah jargon yang selalu diucapkan oleh John Keating. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, seize the day! Semua perkataan yang meluncur dari mulut Keating seolah-olah merasuk kedalam diri Neill, Todd, Knox dan Dalton. Neill yang notabene seorang murid yang paling pandai tahu bahwa berakting adalah kegemarannya dan impiannya disamping mendapat nilai bagus terus-menerus di sekolah, kemudian Knox mempraktekan betul apa itu yang disebut seize the day dengan cara menemui gadis pujaan hatinya walau dia tahu bahwa gadis yang disukainya sudah dimiliki orang lain, dan Todd, remaja pemalu yang akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya dengan lantang ke seluruh orang. Betul, mereka adalah para pemuda yang tahu dan paham betul makna pelajaran yang diberikan oleh Keating di setiap kelasnya, tahu betul bahwa 
menjadi seorang yang bisa menikmati kehidupan, cinta, dan keberadaan diri adalah modal penting untuk menjalanai hidup ini selain menjadi bankir, pengacara maupun seorang dokter yang sukses.

yaaa..g mesti sgini nya jugaaaa.. :-D

ahh..lalu terngiang lantunan nasyid jadul..

Di akhir masa penantian, terlahir mereka yang  kau dambakan
Bagai kertas putih, karunia Ilahi
Kutatap bola matanya, terpancar kesucian jiwa
Mereka bukan milikmu, mereka milik zamannya.
Ajarkan dia tuk mengerti, arti kehidupan yang hakiki
Tiada lagi nilai tertinggi, takwa raih ridho Ilahi
Latihlah slalu tuk mengingkari, setiap panggilan yang keji
Asahlah dia tuk mencintai, panggilan Maha Suci
—-
(Nasyid oleh Nuansa, judul : Bukan milikmu)



Bahkan anak tak mutlak milik orang tuanya..apatah lagi anak didik kita di sekolah..

yaaa..kan apa salahnya kita mulai membangun komunikasi yg selevel dg jaman nya anak-anak kita..
sesekali jd guru alay juga kan bukan dosa..

memberikan pelajaran yg diselipkan selentingan kosakata alay ala anak jaman sekarang keknya seru juga tu..kelas jd rame..
yaaa..stidaknya mereka tertarik dulu lah dg materi yang akan kita sampaikan kan kan kan..

juga ketika mereka bermasalah..tentunya bicara dr hati ke hati itu jg perlu sekufu dlm level bahasa dan gaya juga kan ya..

kadang juga materi yang akan dinilai hanya melalui UN itu hanya terhenti sebatas angka2 yg u know lah..bisa diatur..wani piro..

 jadi..alangkah ruginya bila kita kehilangan momet mengajar dan mendidik yg sesungguhnya hanya karena perbedaan zaman dan angkatan..



sesekali alay gpp lah, pak, bu.. *ahh saya nulis ini jangan2 krn saya tergolong angkatan jadul tapi alay yakk.. 







smangad slalu.. ^_^/

Reaksi:

1 comment: