Tuesday, July 31, 2012

segregasi status pekerjaan dan status simpatisan [haruskah?]

Pertama sekali, bersyukur alhmdulillah beberapa tulisan ghina akhirnya bisa dibaca public dengan lebih luas..yaaa..setidaknya sekarang lebih mengerti tulisan yang layak publish itu seperti apa..eheh8 karena memang sebagaian besar tulisan yang berhasil ditulis rasanya hanya sekedar luapan emosi yang tak tereskpresikan spontan..
*udaaahhhh..testimonial ge.je >,<




Eh, memang akan selalu ada topic buat jadi pembicaraan ya..mmm
Hal baik jadi omongan..hal buruk apa lagi..
emang udah bukan zaman nya ‘no comment’ gaya Desi Ratna Sari kali yaaa…


Tadinya..mw langsung dijawab..tapi merasa klo jawaban yang udah diketik panjang-panjang itu malah terkesan sekedar sebuah justifikasi tak mendasar yang yaaaa..sekedar ke-enggan-an ghina buat disalahkan..
ahahah8 egois mode: ON


Senangnyaaaa…
Justifikasi atas komen tersebut malah didukung dengan penjabaran luar biasa oleh seorang penulis yang juga pegawai DJP..
Yaaa..dapat bukunya emang g disengaja juga..g dicari-cari secara khusus buat jadi referensi justifikasi atas pertanyaan si penanya yang lebih terkesan pernyataan ‘larangan’ bagi ghina.. :D
*sebenarnya lebih terasa ancaman lho mbk.. :D
 



Lalu diterimalah tawaran teman buat ikutan pesan buku “Dakwah dan Manajemen Isu”..dan g nyangka klo akan ada justifikasi luar biasa cerdas yang terjabar lugas di buku tersebut. .
yare yare


Ehem, akhirnya…untuk menanggapi komen seorang teman yang juga guru yang menulis komen nya di YM beberapa waktu lalu..ghina cuma akan copy paste tulisan Pak eko ..
*semoga penulisnya berkenan.


 
Si bu guru mengirim pesan ke YM ghina: ‘kog pake id ‘guru’ untuk tulisan yang jelas-jelas ngebahas dunia per-tarbiyah-an yang juga udh jelas itu tu ‘itu’?? kamu kan udah g mahasiswa lagi, ghin..kerja-kerja aja lah…’..
[si penanya malah g berani langsung bilang ‘itu’ merujuk ke apa..ahhaha8 dah kayak Voldemort aja yang mesti pake ‘you-know-who’ wkwkwkk padahal si penanya itu seingat ghina … hufhhhh g enak makan daging mentah cuy..]
 




Ini dia jawaban Pak Eko..
>> 
Segregasi adalah pemisahan atau pengucilan atau pengasingan. … menegakan kode etik adalah tugas semua pegawai, menjunjung tinggi kewajiban pegawai dan menjauhi larangan adalah hal yang harus dilakukan oleh semua orang pajak. Semuanya tanpa kecuali. …
Oleh karena itu, jika ada upaya untuk menyalahkan sekelompok orang yang dituding simpatisan sebuah entitas politik maka ini menunjukan masih adanya segregasi dalam DJP. Seharusnya kita –orang pajak- lakukan adalah merapatkan barisan dan menghadapi ini dengan dewasa dan tak tergoda untuk dikotak-kotakan atau mengkotak-kotakan. (hal 140)

Jadi sangad menyukai redaksi ‘tak tergoda untuk dikotak-kotakan atau mengkotak-kotakan..’  ini.. :D

Yaaa…cukup ganti ‘DJP’ dengan “guru” atau “pegawai di bawah naungan Diknas” atau birokrasi lainnya yang sering tak punya hubungan baik klo udh bersinggungan dengan politik-politikan ..dan kan kita temukan sebuah redaksi yang mencerahkan..
Yupz!
Kenapa dengan status profesi dan status simpatisan sebuah entitas politik jadi sebuah momok yang dianggap ‘krusial’ mengancam keberlangsungan pekerjaan ckckckck? kenapa harus [walau mungkin tak secara langsung] membuat kotak-kotak dalam keseharian kita di birokrasi? kenapa hal tersebut justru tak dianggap sebuah hal yang ‘kru-poten[si]-sial’? bukan kah dakwah utama itu adalah berupa tauladan yang baik..lantas, bagaimana mereka yang di luar sana men-tauladani yang baik itu jika yang baik itu membuat sebuah kotak yang hanya akan membuka diri ketika bertemu dengan kotak-kotak yang serupa? :D

dowhhh gaya gw...





Masih di bukunya pak eko..
Anis matta menyumbangkan Sembilan hal yang bisa dijadikan parameter jauh atau dekatnya kemenangan dakwah, yaitu komitmen akidah, supremasi pemikiran, sebaran kulturanl, kemampuan akademis,kekukuhan eksekutif, kemandirian ekonomi, keberpihakan militer, koneksi internasional, dan keberadaan parpol yang mengusung syariat.
Ada satu hal yang relevan dengan topic ini, yaitu birokrasi yang bersih dan berwibawa. Keberadaan birokrasi yangs ehat adalah kebutuhan bagi penegakan kebenaran. Sebaliknya, boleh saja kita bersemangat, tapi jika birokrasi kita rapuh maka itu adalah indikasi bahwa perjuangan kebenaran masih jauh. Memnag harapan masih terus harus dijaga, tetapi memperburuk atau menahan perbaikan birokrasi sejatinya dalah memperlambat laju dakwah.
Untuk itu..kita harus terus menjadi duta-duta birokrasi yang baik dan mempengaruhi serta mengingatkan siapa saja soal indicator ini. …
Lalu apa yang harus kita pertegas? … kita Cuma harus menegaskan komitmen bahwa hidup ini adalah ibadah dan kita akan diminta untuk beramal. (hal 141-142)

Tuh kan..
Hape dengan dual SIM aja seruuuu..apalagi klo kita punya dual profesionalitas..
Maka saat nya mengubah yang ‘krusial’ menjadi ‘kru-poten[si]-sial’ dengan menjadi duta di banyak peluang..yang tak hanya membuka kotak nya tapi juga berbagi hal-hal menarik yang baik yang ada di dalam kotak tersebut. Lalu biarkan mereka melabeli kotak kita dengan istimewa..

“So, gua harus bilang: WOW! Gitu?” gaya Andre OVJ eheh8

Ayo jawab lantang: “IYA!”

WOW untuk duta birokrasi yang profesional..
WOW untuk duta birokrasi yang tepat waktu..
WOW untuk duta birokrasi yang masih memperjuangan integritasnya dalam kompleksitas pilihan..
Dan…
WOW..saya duta birokrasi!

***

“saya adalah bagian dari DJP. Dan saya mempunyai harapan pada Komunitas Tarbiyah”
–Eko Novianto-

“saya adalah bagian dari Tarbiyah [silahkan baca: Diknas..atawa birokrasi lainnya ]. Dan saya mempunyai harapan pada Komunitas Tarbiyah.”
-Ghina Shafirah elbankulani-

Ehh..tambahkan sedikit luapan ekspresi dengan penuh gaya sambil bilang “ masalah buat loe?!”

* mempunyai harapan pada Komunitas Tarbiyah tak mutlak diartikan ikut aktif dalam sebuah partai politik kan..

**’harapan’ itu..HAM yang g bisa diganggu gugat lho..




***

Benar. Menjadi pegawai di suatu birokrasi adalah pintu rizki yang sempit..tapi ketika kita melihat pintu-pintu lain yang ditawarkannya..maka aka nada banyak pe.er bagi para duta dakwah yang ditakdirkan di sana.

Baca juga tulisan ‘niat sang pahlwan” dunx.. 





smangad slalu.. ^_^/

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment